Simak 4 Beda Hard Selling dan Soft Selling untuk Promosi Bisnis Ini

beda hard selling dan soft selling

Metode pemasaran yang baik dapat membantu menunjang bisnis untuk berkembang dengan pesat dan sesuai perencaanaan yang telah kamu buat. Sehingga produk atau brand kosmetikmu dapat diterima dan dikenal oleh khalayak umum. Nah, agar bisa membentuk strategi yang tepat, kenali 4 beda hard selling dan soft selling berikut ini.

Untuk mencapai target penjualan yang baik ada beberapa metode atau cara promosi yang dapat dilakukan yaitu metode hard selling dan metode soft selling. Dalam dunia pemasaran, kedua istilah tersebut sudah tidak asing lagi.

Metode hard selling dan metode soft selling dapat dilakukan untuk memasarkan produk kepada konsumen atau target pasar.

Bagi pelaku usaha, kedua metode ini memiliki peran tersendiri dan juga dapat membawa pengaruh terhadap perkembangan bisnis yang sedang dijalankan.

Apa Itu Hard Selling dan Soft Selling

Hard selling dan soft selling merupakan dua jenis metode yang dapat digunakan untuk memasarkan produk kepada konsumen.

Dua metode ini memiliki fungsi yang berbeda walaupun memiliki tujuan akhir yang sama. Lebih jelasnya mengenai kedua metode tersebut, mari simak artikel berikut.

Pengertian Hard Selling

Istilah hard selling dapat diartikan sebagai sebuah metode pemasaran yang dilakukan secara langsung dan terbuka.

Hard selling adalah sebuah metode pendekatan dalam melakukan penjualan (sales) yang bersifat secara langsung, gambling, dan tanpa basa-basi.

Tujuan dari metode hard selling ini yaitu agar konsumen dapat terdorong secara langsung untuk melakukan transaksi terhadap produk yang dijual, diiklankan, ditawarkan, atau dipromosikan.

Metode ini sering dinilai sebagai sebuah metode yang agresif karena pendekatannya secara langsung dan tanpa basa-basi kepada konsumen atau target pasar.

Ini karena metode pemasaran yang seolah mendesak konsumen untuk segera membeli produk tersebut. Akhirnya konsumen akan merasa tak nyaman dan mungkin enggan melakukan pembelian di toko lagi.

Namun, metode ini terbilang efektif untuk beberapa kondisi dan untuk kebutuhan tertentu.  Siapa pun seseorang yang ditunjuk sebagai salesperson suatu produk bisa secara langsung menggunakan metode hard selling dalam melakukan pemasaran. Selain itu, metode ini juga dapat diterapkan dalam iklan, baik iklan offline maupun online.

Metode ini membuat konsumen tidak ingin kehilangan kesempatan untuk segera membeli produk dengan menciptakan rasa urgensi melalui kata “diskon”, “penawaran menarik” atau “promo terbatas”.

Pengertian Soft Selling

Jika dilihat dari kata yang digunakan, metode soft selling dapat diartikan secara sederhana atau penjualan secara halus.

Sementara menurut versi yang lain, metode soft selling adalah sebuah metode pendekatan penjualan yang menggunakan tutur bahasa yang cenderung halus dan membuat orang penasaran.

Soft selling merupakan pendekatan penjualan dengan menggunakan bahasa yang halus dan teknik yang tidak agresif.

Tujuan dari metode soft selling ini yaitu agar konsumen menjadi penasaran dan tertarik untuk melihat iklan atau mengenal produk lebih lanjut sebelum akhirnya memutuskan untuk melakukan pembelian.

Jika pendekatan Hard Selling sering menyebabkan orang merasa tidak nyaman karena diburu-buru maka pendekatan soft selling sangat berbeda. Metode Soft Selling bekerja agar para konsumen menjadi tertarik untuk melihat iklan lebih lanjut karena timbul rasa penasaran.

Metode ini juga lebih santai, serta tidak memberikan ‘pemaksaan’ pada konsumen untuk membeli produk di saat itu juga.

Jadi pada metode ini Anda tidak akan mendapatkan penjualan saat melakukan pendekatan untuk yang pertama kali, tetapi metode ini bisa membantu penjualan berulang dalam jangka panjang.

Melalui pendekatan soft selling ini, sebuah brand atau produk juga dapat membangun hubungan positif jangka panjang dengan para konsumen.

Iklan yang menggunakan metode soft selling umumnya menekankan pada manfaat produk baik barang maupun jasa dan menarik konsumen menggunakan sisi emosi dan humor ke dalam iklan.

Beda Hard Selling dan Sof Selling

Jika dilihat dari asal katanya, sebenarnya telah dapat ditarik perbedaan antara hard selling dan soft selling melalui tulisan yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Metode hard selling menggunakan pendekatan langsung, sementara metode soft selling menggunakan pendekatan tidak langsung.

Namun, agar lebih mengetahui perbedaan keduanya, berikut ini terdapat beberapa aspek yang membedakan dua metode tersebut. Simak penjelasan berikut ini.

Jangka Waktu Penjualan

Perbedaan pertama antara metode hard selling dan soft selling dapat terlihat dari target jangka waktu penjualannya. Metode hard selling menggunakan pendekatan yang dilakukan secara langsung, gamblang, dan tanpa basa-basi.

Pada penggunaan metode hard selling ini, konsumen diminta untuk langsung melakukan transaksi saat itu juga dengan membeli barang yang ditawarkan sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa metode hard selling ini memiliki jangka waktu penjualan yang pendek.

Jenis metode ini memiliki efek panjang dan perlu waktu sampai kamu benar-benar memperoleh penjualan. Namun dampaknya enggak hanya pada transaksi, melainkan dapat memperluas jangkauan konsumen.

Terdapat penelitian yang menyebutkan bahwa sebagian besar orang akan merekomendasikan suatu produk yang diiklankan atau ditawarkan dengan metode soft selling.

Seseorang akan merekomendasikan kepada teman atau kerabat dekatnya terhadap produk yang pernah digunakannya. Sebagian besar teman atau kerabat dekatnya tersebut memiliki kemungkinan mencapai 95% untuk membeli produk yang direkomendasikan tersebut.

Menurut penelitian, konsumen lebih menyukai metode penjualan soft selling, namun bukan berarti metode hard selling tidak efektif, untuk beberapa kondisi menggunakan metode hard selling bisa dibilang lebih efektif.

Ketertarikan Konsumen

Perbedaan kedua antara hard selling dan soft selling yaitu ketertarikan konsumen. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, konsumen lebih tertarik akan suatu produk jika dilakukan pendekatan menggunakan metode soft selling.

Dengan demikian, penggunaan metode soft selling, konsumen akan dibuat penasaran sehingga akan mengeksplor apa saja yang ada dalam produk tersebut.

Metode soft selling ini sering digunakan oleh brand atau perusahaan untuk membangun ikatan antara perusahaan dengan para konsumen.

Selain itu, metode soft selling ini juga dapat digunakan untuk membangun citra baik suatu perusahaan. Oleh sebab itu, metode ini sering digunakan oleh perusahaan. Sementara metode hard selling juga tetap dapat menarik konsumen dengan rentang waktunya relatif lebih singkat, jadi dapat menghasilkan penjualan lebih cepat.

Pada metode hard selling, konsumen tidak diberikan kesempatan untuk melakukan eksplorasi lebih jauh terhadap produk yang ditawarkan dan dijual. Pada akhirnya, ketertarikan konsumen terhadap produk tersebut juga akan berlangsung singkat atau bisa dibilang membeli produk untuk mencobanya saja tanpa membelinya Kembali dikemudian hari.

Bidang Industri yang Menerapkan

Masing-masing perusahaan bisa dan berhak menentukan sendiri metode mana yang ingin digunakannya, apakah ingin menggunakan metode hard selling atau metode soft selling.

Namun, bukannya tak mungkin untukmu menggunakan dua jenis strategi pemasaran tersebut dalam satu waktu. Karena memang keduanya sangat mungkin untuk digunakan secara beriringan, terutama kaluu bisnismu masih tergolong UMKM.

Misalnya, metode hard selling biasanya banyak kerap terdapat pada strategi promosi industri perbankan, asuransi, atau telemarketing. Sementara metode soft selling digunakan dalam bidang atau industri, seperti manufaktur, konsultan, dan tentu masih banyak bidang lainnya juga.

Perusahaan biasanya tidak terlalu ambil pusing terhadap dua metode ini karena kedua metode ini memiliki tujuan utama yang sama. Perusahaan hanya menggunakan metode tertentu jika ada tujuan sampingan yang ingin perusahaan capai. Jadi, keduanya dapat digunakan dalam melaksanakan pemasaran terhadap produk yang dijual.

Fungsi dan Jenis Promosi yang Dilakukan

Berdasarkan tujuannya, metode hard selling dan soft selling memiliki tujuan utama yang sama yaitu tercapainya suatu penjualan produk. Namun, menurut fungsinya, kedua metode ini (metode hard selling dan soft selling) sebenarnya memiliki perbedaan satu sama lain.

Oleh karena itu, umumnya perusahaan akan menggunakan dan menggabungkan kedua metode ini karena ada tujuan lain yang ingin pebisnis capai dalam promosi mereka.

Metode hard selling yang langsung dan tanpa basa-basi lebih cocok untuk kamu gunakan ketika perusahaan ingin langsung mendapatkan target penjualan dalam waktu singkat. Penggunaan metode ini juga lebih cocok untuk produk-produk yang termasuk dalam produk berupa barang kebutuhan sehari-hari.

Fungsi lain dari metode hard selling ini yaitu untuk memengaruhi tingkah laku konsumen atau target pasar agar mau bertransaksi saat itu juga.

Sedangkan, metode soft selling memiliki fungsi lain seperti membangun kepercayaan dari konsumen terhadap produk yang Anda promosikan atau tawarkan. 

Metode Soft Selling juga kerap pebisnis pakai untuk membangun reputasi bisnis, brand awareness, dan menciptakan hubungan baik antara perusahaan atau brand dengan para konsumen. Sehingga umumnya metode ini memberikan target penjualan jangka panjang.

Penggunaan metode ini juga berguna untuk mengukur customer experience dan membangun rasa nyaman pembeli ketika melakukan transaksi di toko kosmetik yang kamu miliki.

Kemudian, terdapat umpan balik (feedback) dari konsumen terhadap produk yang akan kamu tawarkan. Sehingga akan tercipta kepercayaan dari konsumen terhadap produk tersebut. Konsumen yang sudah merasa puas biasanya tidak segan untuk memberikan rekomendasi produk kepada orang lain.

Contoh Penerapan Hard Selling dan Soft Selling

Pada penerapan metode soft selling marketing sering membagikan sampel produk pasaran. Hal ini cocok untuk kamu gunakan dalam mempromosikan produk baru. Tujuannya untuk mengenalkan produk kepada konsumen sehingga mereka tertarik menggunakannya di kemudian hari.

Sedangkan pada penerapan metode hard selling, cara pemasarannya menggunakan potongan harga untuk menarik pembeli. Kalau kita lihat dari aspek pskologi konsumen, cara ini membuat konsumen untuk membeli produk tanpa mereka sadari. Istilahnya, kita berusaha memberikan sugesti halus untuk mendorong konsumen melakukan transaksi.

Conton Penerapan Soft Selling

Informasi dalam soft selling secara tidak langsung digunakan untuk memberi keterangan manfaat kepada pembeli. Dalam metode ini, konten promosi yang dilakukan umumnya berbentuk tak langsung.

Misalnya, marketer membuat konten tips and trick, beautyhack, infografis, dan konten lainnya. Kemudian mengemasnya sedemikian rupa dan menghubungkannya dengan fitur tertentu dari produk mereka.

Untuk membuat konten Soft selling lebih menarik, kamu bisa menambahkan kalimat copy yang juga catchy. Jadi konsumen akan teringat terus dengan promosi yang kamu lakukan.

Contoh Penerapan Hard Selling

Pada penerapan hard selling, metode yang bisa kamu gunakan untuk menarik pembeli yaitu dengan cara memberikan doorprize. Artinya, jika seseorang membeli sebuah produk maka ada hadiah tersebut harus sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku.

Pada metode hard selling, kamu bisa menggunakan kata yang langsung pada intinya. Misal, menggunakan kata “bonus” seperti buy 1 get 1 free untuk memainkan psikologis pembeli agar tertarik mengambil produk dan melakukan pembelian saat itu juga.

Pada metode hard selling ini, perusahaan menggunakan cara “bundling”, yaitu menyatukan beberapa produk dalam sebuah paket. Atau dengan menggunakan metode cross selling, agar pembeli terus menambah barang yang akan mereka beli.

Cara ini sebenarnya telah banyak pebisnis lakukan, karena memang cukup efektif untuk meningkatkan penjualan, maupun mengurangi stok produk yang menumpuk.

Baca Juga: Tips Promosi Hard Selling Untuk Brand Kosmetik, Cobain Yuk!

Nah, setelah mengetahui 4 beda hard selling dan soft selling di atas, apakah kamu sudah menemukan strategi yang cocok untuk brand/bisnis kosmetikmu?

Untuk memilih strategi yang tepat kamu harus menyesuaikan dengan target dan tujuan pasar yang ingin kamu raih. Dengan begitu, proses promosi yang terjadi bisa berjalan efisien dan dapat menghasilkan tujuan pemasaran.

About Author

Related posts

total quality management adalah

Kenali Sistem Total Quality Management (TQM) dan 8 Elemen Pokoknya

Apakah kamu pernah mendengar istilah total quality management? Konsep awal total quality management awalnya diciptakan untuk sektor manufaktur, tetapi konsep tersebut sudah banyak digunakan untuk berbagai macam industri. Dalam penerapannya, konsep total quality management adalah meningkatkan budaya kerja, sistem,...

Continue Reading

Leave a Comment